Kamis, 17 November 2011

Cerita Sukses Pelajar Indonesia Menjuarai Kompetisi Software Batik

Tag
, , ,
icysMenjadi juara umum dengan sukses membawa pulang enam medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam kompetisi level dunia, International Conference of Young Scientists (ICYS), tentu tidak mudah. Bagaimana pelajar-pelajar wakil bangsa itu mencapainya?
TITIK. A-S. AISYAH
Wajah-wajah letih akibat penerbangan panjang hampir 10 jam seketika berganti semringah. Itulah yang terlihat dari raut pelajar-pelajar Indonesia setiba dari Polandia pada Jumat (1/5) petang. Mereka begitu bergembira menerima penyambutan dari teman-teman sekolah dan pejabat Depdiknas.
Seperti halnya yang dilakukan SMA Global Mandiri Jakarta, para guru dan murid datang serombongan ke bandara. Mereka membawa seuntai bunga yang dilingkarkan ke leher Nugra Akbari, siswa kebanggan mereka yang sukses meraih emas di bidang computer science. Para suporter yang terdiri atas teman-teman Nugra juga menyambut dengan heboh.
Tak heran, begitu datang, Nugra pun langsung dihujani ciuman dan ucapan selamat oleh keluarga dan teman-temannya. Menurut Eliza Gustineli, sang ibu, persiapan yang dilakukan Nugra menjelang lomba boleh dibilang cukup lama. Yaitu, sekitar delapan bulan. Nugra telah bekerja keras untuk mempersiapkan penelitian yang berjudul m-batik: the computation of Indonesia’s dying traditional batik design.
Selama kurang lebih enam bulan dia membikin program desain pola batik secara komputerisasi itu. Bahkan, lantaran terlalu bersemangat mempersiapkan ajang perlombaan itu, dia sempat terkapar di rumah sakit seminggu sebelum lomba berlangsung. Nugra terkena demam berdarah dan tifus sebelum berangkat ke Polandia. Tujuh hari dia dirawat di rumah sakit dan tidak sempat belajar. ”Setelah sembuh, dia langsung berangkat ke Polandia dengan persiapan apa adanya,” ujar Eliza.
Namun, siapa sangka tema batik yang diusungnya berhasil mengharumkan nama Indonesia. Presentasi yang dia lakukan cukup meyakinkan dewan juri yang berasal dari berbagai negara itu. Nugra menuturkan, bukan tanpa alasan dia memilih tema batik dalam penelitiannya. ”Saya berpikir bahwa batik sudah mulai dilupakan orang. Saya ingin budaya yang satu itu disukai kembali,” terang Nugra.
Bukan hanya Nugra yang kedatangannya di tanah air disambut meriah. Idelia Chandra, peraih medali emas bidang fisika, dan Gabriella Alicia Kosasih, peraih medali emas bidang ekologi, dari SMA St Laurensia, juga mendapat sambutan istimewa. Teman-temannya membentangkan spanduk bertulisan selamat datang kepada Idelia. Maklum, dua tim dari sekolah itu berhasil menggenggam dua medali emas. ”Tidak sia-sialah kerja keras anak-anak,” ujar Destri Mudiawati, supervisor science SMA St Laurensia, Tangerang.
Ketika mempresentasikan penelitiannya yang berjudul balinese gamelan: a brainwave synchronizer, Idelia Chandra mendapat applaus panjang dari peserta lain dan dewan juri. Sebab, boleh dibilang penelitian Idelia bersama Christopher Alexander, rekannya, cukup unik. Dia mencermati bahwa sepasang gamelan Bali memiliki suara yang berbeda dengan suara gamelan Jawa.
Tertarik dengan perbedaan itu, dia lantas melakukan penelitian. Secara fisik, dua tabung resonansi di bawah gamelan Bali memang berbeda. Satu tabung lebih panjang dan satunya lebih pendek. Perbedaan fisik tabung itulah yang kemudian menimbulkan frekuensi suara yang berbeda pula.
Namun, ketidakselarasan bunyi itulah yang justru menimbulkan efek, yang ketika didengarkan menimbulkan perasaan nyaman dan rileks. ”Bahkan, bisa untuk meditasi,” ujar Idelia. Namun, dia belum meneliti mengapa dulu sepasang gamelan itu dibikin beda. ”Pasti ada alasan filosofisnya. Namun, saya belum teliti sejarahnya,” terangnya.
Sumber : http://dahlan-adm.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar